Sabtu, 24 Oktober 2009

Kyai Shiddiq bin Abdullah Jember

Menyemai Generasi Berpengetahuan

Hari itu Madura beranjak petang. Langit bersepuh kemerahan. Seorang anak muda berdiri di bibir sumur. Tangannya menggenggam seutas tali. Perlahan dan penuh semangat, ia mengerek air dari lubang yang dalam itu.

Tiba-tiba muncul sebuah keganjilan. Ember terasa sangat berat, jauh dari biasanya. Benak si pemuda didera rasa heran. Cepat-cepat ia menarik ember sekuat tenaga. Dan, terkuaklah pemandangan yang membelalakkan mata: ember dipenuhi tumpukan permata berkilauan.

Si pemuda bukannya riang. Ia malah gelisah "Ya Allah…bukan ini yang aku harapkan. Permohonanku hanyalah semoga Engkau mengkaruniai aku keturunan yang shaleh dan mulia," lirihnya dalam hati.

Pemuda itu, Shiddiq bin Abdullah, adalah salah seorang santri Kyai Kholil Bangkalan. Hatinya sejernih intan. Setiap malam ia mengisi air kamar mandi pondok untuk keperluan santri. Niatnya tulus ikhlas. Dan harapan yang ia desiskan pada petang itu kelak menjadi nyata: keturunannya banyak dan shaleh, rata-rata menjadi ulama besar dan berpengaruh.

Sebelum menimba ilmu pada Kyai Kholil, Shiddiq belia pernah nyantri pada Kyai Abdul Aziz Lasem, Kyai Sholeh Langitan, dan Kyai Sholeh Darat Semarang. Pendidikan paling dasar ia dapatkan dari ayahandanya, Kyai Abdullah.

Selama mukim di Bangkalan, ia tergolong santri mandiri nan kreatif. Demi mencukupi kebutuhan, ia menulis terjemahan Alfiyah ibnu Malik dan menjualnya kepada para santri. Cukup laris manis. Hasilnya lumayan. Ia pun tak pernah mengharap kiriman keluarga.

Setelah bekal ilmu fikih dan lughatnya mumpuni, ia pamit kepada Kyai Kholil untuk melanjutkan belajar kepada Kyai Ya'kub Siwalan Panji, Sidoarjo, seorang ulama sepuh yang kewaliannya masyhur. Kyai Kholil merestui. Menurutnya sang murid telah memiliki dasar yang kuat.

Fase berikutnya, di Sidoarjo, Shiddiq lebih fokus mendalami tasawuf. Kyai Ya'kub memberikannya pengetahuan khusus mengenai kemakrifatan, sebuah studi yang tak bisa diselami sembarang orang. Shiddiq juga menyempatkan diri mengaji tabarrukan kepada Kyai Abdurrahim Sepanjang, Surabaya.

Berkat ketekunan menempa pengetahuan pada kyai-kyai besar, Shiddiq berhasil menjadi sosok yang alim dan arif. Ilmunya tinggi dan akhlaknya luhur. Pengelanaannya yang panjang tidak sia-sia. Tepat pada tahun 1874 M, ia pun pulang kampung ke Lasem. Ia lalu menikah dan menempati rumah abahnya.

Di rumah itu ia merintis dakwah. Ia mengajari putranya dan anak-anak tetangga bacaan Alquranul Karim. Demi menopang ekonomi keluarga, ia berjualan kitab, kopiah, dan sarung. Sebuah ikhtiar bersahaja.

Sikap jujur sangat dipegang Kyai Shiddiq dalam berniaga. Bila ada pembeli menawar barang, ia menyebutkan harga kulakannya. Lalu ia tak sungkan menanyakan kesanggupan pembeli memberi laba kepadanya. Cara yang tak lumrah. Namun dengan metode inilah ia meraup sukses. Dagangannya laris manis. Dan otomatis, ekonominya ikut melambung pesat.


Hijrah

Sewaktu berumur 30 tahun, Kyai Shiddiq, yang lahir pada 1453 H atau 1854 M, meninggalkan kota kelahirannya, Lasem. Ia mengarah ke Jember, sebuah kota yang masih belantara kala itu. Kepergiannya ini atas isyarat Kyai Kholil Bangkalan.

Sesampainya di Jember, ia terlebih dulu tinggal di pasar Patrang. Di situlah ia memulai aktifitas dakwah. Ia mengajar di sela-sela kesibukannya berdagang. Bila pembeli datang, dihentikannya dulu pelajaran untuk melayani pembeli. Setelah itu dilanjutkan kembali. Konon murid pertamanya di pasar itu adalah Kyai Ghofur Pasuruan.

Strategi ini ternyata efektif. Pasar merupakan pusat keramaian. Nama kyai Shiddiq cepat tersebar. Ketinggian ilmu dan akhlaknya membetot perhatian khalayak luas. Tak hanya di Jember. Bahkan sampai di daerah Ambulu, Rambi Puji, Kencong, Balung dan sekitarnya. Orang-orang yang menuntut ilmu padanya pun kian berjubel. Lalu dengan uang hasil dagang, ia membangun sebuah rumah di daerah di Gebang beserta mushalla untuk kegiatan mengaji.

Bila ditanya, apa kunci sukses Kyai Shiddiq? Jawabnya: keistiqamaan. Benar. Kyai Shiddiq memang pribadi yang mustakim. Alquranul Karim dan Dalailul Khoirat tak pernah alpa dibacanya, bahkan di tengah perniagaannya dulu. Wirid-wirid yang dirutininya lumayan banyak. Di samping itu ia menertibkan pembacaan maulid diba', barzanji dan ratibul haddad. Kala jam mengarah angka tiga dini hari, ia senantiasa bangun untuk bertahajud dan munajat. Setelah selesai ia berjalan mengelilingi pesantrennya. Dibangunkannya para santri yang lelap agar bersiap salat Subuh. Lalu ia memimpin jamaah salat Subuh di Mushallanya.

Seusai salat dan wirid-wirid, biasanya ia memasuki kamar pribadinya di sebelah utara mihrab. Kalau sudah begitu tak ada yang berani mengusik. Ia berkhalwat mendekatkan diri pada Sang Ilahi.

Kyai Shiddiq memiliki kedekatan dengan Kyai Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Selama mondok di Bangkalan Kyai Hasyim pernah diajar Kyai Shiddiq yang saat itu dipercaya menjadi asisten Kyai Kholil. Mereka kemudian terus menjalin kontak sekalipun Kyai Shiddiq tidak aktif dalam lingkaran struktur NU.

Kehidupan Kyai Shiddiq adalah potret kesahajaan. Dunia tak pernah menyilaukannya. Ia berdagang hanya untuk mencukupi kebutuhan. Selanjutnya, waktu-waktunya tercurahkan untuk dakwah dan mengajar. Dalam keluarga, ia menciptakan atmosfer pengetahuan dan akhlak. Makanya jangan heran bila anak turun Kyai Shiddiq kelak menjadi ulama papan atas di Nusantara. Sebut saja Kyai Mahfud Shiddiq, Kyai Ahmad Shiddiq, Kyai Ahmad Qusyaeri, dan Kyai Abdul Hamid.

Kyai Shiddiq, sang mutiara itu, akhirnya menghadap Sang Kuasa pada Ahad Pahing 2 Ramadhan 1433H (9 Desember 1934 M) pada usia 80 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Turbah Condro. Ribuan manusia menghadiri pemakamannya.

Kini, turbah itu menjadi oase kaum muslimin. Para peziarah selalu mengalir berdatangan ke makam Kyai Shiddiq. Mereka khidmat membacakan Yasin, tahlil dan doa-doa untuk arwahnya. Di tengah-tengah ritual itu hati mereka (barangkali) acap berbisik: agaknya, saat ini bumi pertiwi mendamba sosok ulama seikhlas beliau. Disarikan dari buku biografi beliau

Tidak ada komentar:

The Future of Salaf

The Future of Salaf
Habib Taufiq Assegaf, Pasuruan